Beranda / Bisnis

Rencana Redenominasi Rupiah Kapan Berlaku? Bank Indonesia: Itu Wilayah Pemerintah

Terasjakarta.id - Minggu, 7 Mei 2023 | 15:25 WIB

SHARE
Share Whatsapp Share Facebook Share Twitter Share Link
Redenominasi Rupiah menjadi rencana jangka menengah Menkeu Sri Mulyani dalam Rencana Strategis Kementerian Keuangan Tahun 2020-2024. BI pastikan siap ikuti arahan pemerintah. (Foto: istimewa)

Redenominasi Rupiah menjadi rencana jangka menengah Menkeu Sri Mulyani dalam Rencana Strategis Kementerian Keuangan Tahun 2020-2024. BI pastikan siap ikuti arahan pemerintah. (Foto: istimewa)

Penulis : Riza Alamas
Editor : Riza Alamas

JAKARTA, TERASJAKARTA.ID- Bank Indonesia pastikan rencana redenominasi Rupiah atau penghapusan nol pada Rupiah akan mengikuti arahan dari pemerintah.

Kepala Departemen Penglolaan Uang Bank Indonesia Marlison Hakim mengungkapkan bahwa redenominasi merupakan wilayah kewenangan pemerintah, dan Bank Indonesia hanya mengikuti arahan.

Marlison mengatakan bahwa Bank Indonesia siap mengikuti keputusan oleh pemerintah dalam hal ini (redenominasi Rupiah), pada Rabu 26 April 2023 di acara Peluncuran SERAMBI 2023.

Baca Juga : Harga Emas Antam Menurun dan Nilai Tukar Rupiah Menguat Rp14 ribu atas Dolar AS

Namun, Marlison mengaku belum mendangar pembicaraan lebih lanjut terkait rencana redenominasi Rupiah, namun mengakui bahwa Bank Indonesia akan selalu siap jika sudah diminta oleh pemerintah.

Rencana redenominasi Rupiah sudah lama mencuat, namun hingga saat ini aturan dalam Rancangan Undang-Undang Redenominasi Rupiah hingga saat ini belum ada kelanjutannya.

Padahal RUU Redenominasi Rupiah sendiri sudah dimasukan dalam rencana jangka menengah oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani dan ditetapkan dalam Permenkeu atau PMK Nomor 77 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Keuangan Tahun 2020-2024.

Mengacu pada peraturan tersebut, RUU Redenominasi Rupiah dapat berdampak positif, seperti sebagai efisiensi perekonomian, menyederhanakan sistem transaksi, akuntansi, serta pelaporan APBN.

Baca Juga : Bank Indonesia dan Bank of Korea Kerja Sama Dorong Penggunaan Mata Uang Lokal

Kementerian Keuangan melalui PMK Nomor 77 Tahun 2020 menjelaskan bahwa RUU tentang Redenominasi Rupiah atau Perubahan Harga Rupiah dengan urgensi pembentukan demi menimbulkan efisiensi perekonomian berupa percepatan waktu transaksi.

Selain itu, berkurangnya risiko human error dan efisiensi pencantuman harga barang/jasa karena sederhananya jumlah digit rupiah menjadi dampak positif dalam pembentukan Redenominasi Rupiah.

Dampak positif lainnya dalam Redenominasi Rupiah adalah sebagai penyederhanaan sistem transaksi, akuntansi, hingga pelaporan APBN karena sederhananya jumlah digit Rupiah.

Baca Juga : Bank Indonesia Batasi Penukaran Uang Baru Rp3,8 Juta per Orang

Dalam kajian Bank Indonesia, Redenominasi Rupiah bukanlah Sanering atau pemotongan daya beli masyarakat melalui pemontongan nilai mata uang seperti yang terjadi pada kebijakan Gunting Syafruddin pada tahun 1950-an.

Bank Indonesia menjelaskan bahwa redenominasi biasanya dilakukan dalam kondisi ekonomi yang stabil dan menuju arah ekonomi yang lebih sehat.

Berbanding dengan Sanering yang merupakan pemotongan uang dan dilakukan saat kondisi keuangan perekonomian yang tidak sehat, dimana nilai mata uang dipotong.

Redenominasi biasanya dilakukaan saat ekspetasi inflasi berada di kisaran rendah dengan pergerakan mata uang yang stabil, stabilitas perekonomian terjaga serta ada jaminan terhadap stabilitas harga dan adanya kebutuhan serta kesiapan masyarakat.

Baca Juga : Bank DKI Terus Inovasi Tingkatkan Daya Dukung Finansial Digitalisasi

Sehingga Bank Indonesia menghimbau masyarakat untuk tidak panik dengan rencana redenominasi Rupiah karena bukan sebuah pemotongan nilai mata uang, seperti yang terjadi di era tahun 1950-an.

Gunting Syafruddin, Pemotongan Nilai Mata Uang Tahun 1950-an

Perlu diketahui, pemotongan nilai mata uang rupiah pernah terjadi di Indonesia di era Kabinet Hatta II yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan Syafruddin Prawiranegara di tahun 1950.

Baca Juga : Bank DKI Usung Tema Transformasi Menuju Ekosistem Digital di Usia ke 65 Tahun

Kebijakan Menkeu saat itu yang dikenal dengan kebijakan Gunting Syafruddin adalah sebuah kebijakan untuk mengatasi krisis ekonomi yang terjadi, mulai dari mengatasi inflasi, mengurangi beban utang luar negeri, hingga mengatasi defisit anggaran sebesar Rp5,1 miliar.

Kebijakan Gunting Syafruddin berlaku sejak 10 Maret 1950 pukul 20.00 WIB dengan menggunting fisik uang kertas De Javasche Bank dan uang NICA menjadi dua bagian.

Pada jaman kepemimpinan Syarfuddin, Bank Indonesia melalui kebijakan Gunting Syafruddin tidak berdampak besar kepada rakyat kecil, karena mayoritas yang memiliki uang 5 gulden keatas hanya golongan orang kelas menengah keatas.

Kebijakan ini juga upaya Menkeu Syafruddin untuk menyeimbangkan jumlah uang beredar dan barang yang beredar, sehingga dapat mengantisipasi inflasi yang akan terjadi di masa yang akan datang.

Baca Juga : Nomor Layanan SMS Bank Mandiri Berubah jadi 83355, Berlaku Mulai 30 April 2023

Kebijakan ini dilakukan dengan memotong fisik uang pecahan 5 gulden keatas menjadi dua bagian, dan guntingan bagian kiri dipegang oleh masyarakat dimana nilai mata uang tersebut hanya tinggal setengah dari nilai sebelumnya.

Guntingan bagian kiri tersebut masih dapat digunakan masyarakat pada jaman tersebut sebagai alat pembayaran yang sah walaupun nilai mata uangnya hanya setengah dari nilai mata uang sebelumnya.

Namun, kebijakan Gunting Syafruddin ini berbeda dengan wacana Redenominasi Rupiah yang dicanangkan oleh Menkeu Sri Mulyani sebagai rencana jangka menengah dalam Rencana Strategis Kemenkeu Tahun 2020-2024.

Baca Juga : Bank DKI Pecahkan Rekor Laba Bersih Rp939 Miliar

Jika Gunting Syafruddin adalah pemotongan nilai mata uang, Redenominasi Rupiah yang dicanangkan adalah rencana penyederhanaan digit Rupiah dan tidak memotong nilai mata uang tersebut.

Hanya digitnya saja yang disederhanakan, dan tidak memotong nilai mata uangnya sendiri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

    SHARE
    Share Whatsapp Share Facebook Share Twitter Share Link