Beranda / Bisnis

Sejarah Toko Buku Gunung Agung yang Gulung Tikar, Awalnya Cuma Kios Sederhana

Terasjakarta.id - Senin, 22 Mei 2023 | 09:00 WIB

SHARE
Share Whatsapp Share Facebook Share Twitter Share Link
Toko Buku Gunung Agung ini berawal dari Tjio Wie Tay yang mulai mendirikan sebuah kios sederhana. (Foto: Freepik)

Toko Buku Gunung Agung ini berawal dari Tjio Wie Tay yang mulai mendirikan sebuah kios sederhana. (Foto: Freepik)

Penulis : Rury Pramesti
Editor : Rury Pramesti

JAKARTA, TERASJAKARTA.ID - Toko Buku Gunung Agung dikabarkan gulung tikar dan akan menutup seluruh outlet di yang masih tersisa.

Kabar penutupan Toko Buku Gunung Agung ini dikarenakan outlet terus mengalami kerugian yang mana semakin besar setiap bulannya.

Padahal, Toko Buku Gunung Agung sendiri merupakan salah satu toko buku paling legendaris di Jakarta sejak tahun 1953.

Toko Buku Gunung Agung ini berawal dari Tjio Wie Tay yang mulai mendirikan sebuah kios sederhana dengan menjual beberapa surat kabar, buku serta majalah dengan nama kemitraan, yakni Thay San Kongsie di Jakarta Pusat.

Baca Juga : Terus Merugi! Toko Buku Gunung Agung Gulung Tikar, Bakal Tutup Seluruh Outletnya

Awal Mula Dirinya Toko Buku Gunung Agung

Mengutip dari lama Kemdikbud terkait Sejarah Perbukuan, Tjio Wie Tay ini mulai membentuk kongsi dagang bersama dengan Lie Tau San serta The Kie Hoat bernama Tay san Kongsie di tahun 1945 yang bermula dari dagang rokok.

Setelah kemerdekaan, banyak permintaan buku-buku yang mulai meninggi yang kemungkinan dikarenakan hengkangnya penerbit dari Belanda dari Indonesia.

Hal itulah yang dilihat sebagai peluang oleh Tay San Kongsie yang langsung mendirikan sebuah toko buku impor dan juga majalah.

Kala itu, masih terjadi persaingan dengan beberapa penerbit toko buku Belanda, seperti Kolff dan juga Van Dorp.

Baca Juga : Toko Buku Gunung Agung Dikabarkan PHK Massal Karyawannya, Begini Kata Direksi

Seiring adanya keuntungan buku yang lebih besar ketimbang hasil untung dari jual rokok dan bir, maka Tay San Kongsie pun memutuskan untuk menutup usaha rokok dan birnya dan berganti dengan usaha di toko buku.

Di tahun 1951, Tjio Wie Tay beli rumah sitaan dari Kejaksaan di Jalan Kwitang Nomor 13, daerah Jakarta Pusat. Rumah itu pun mulai ditata dan dibuat sebuah percetakan kecil di bagian belakang rumah.

Barulah di tahun 1953, Tjio Wie Tay mulai memperbesar usahanya ini menjadi firma. Namun, ide itu ditolak oleh Lie Tay San yang langsung mengundurkan diri dari kongsi tersebut.

Baca Juga : Catat Tanggalnya! Bazar Buku Big Bad Wolf Jakarta 2023 Segera Hadir

Mengutip dari Toko Buku Gunung Agung, seiring mulai berkembangnya usaha tersebut, Tjio Wie Tay atau kerap dikenal haji Masagung ini mulai dirikan perusahaan baru yang terbitkan serta impor buku bernama Firma Gunung Agung.

Kemudian, berdirinya perusahaan Firma Gunung Agung ini ditandai dengan adanya perhelatan pameran buku pada tanggal 8 September 1953 di Jakarta.

Buka Pameran Buku Jadi Momen Awal Toko Buku Gunung Agung

Haji Masagung mulai memuka pameran dengan bermodalkan uang Rp500 ribu, dengan pamerkan 10 ribu buku dengan jumlah fantastis kala itu. Hingga pameran tersebut menjadi momen awal bisnis Toko Buku Gunung Agung.

Masagung menggelar pameran buku pertama di Indonesia di tahun 1954 dan mendapat sambutan baik dari masyarakat.

Baca Juga : Rekomendasi Kumpulan Buku Puisi Terbaik yang Wajib Dibaca

Pameran itu bernama Pekan Buku Indonesia 1954, di mana pada pameran tersebut Gunung Agung mulai menyusun tradisi bibliografi.

Hingga akhirnya lewat pameran Pekan Buku Indonesia 1954 ini, Tjio Wei tay pun dapat berkenalan dengan sosok yang paling dikaguminya, yakni Soekarno-Hatta.

Toko Buku Gunung Agung pun akhirnya menjadi bisnis toko buku ritel terkemuka di Indonesia yang menyediakan berbagai produk buku, alat tulis, kebutuhan sekolah, barang olah raga, alat music, peralatan kantor dan lainnya bagi pelanggan.

Baca Juga : Kementerian Agama Terbitkan Buku Pedoman Haji 2023 Khusus Lansia

Toko Buku Gunung Agung Gulung Tikar 2023

Toko Buku Gunung Agung dikabarkan PHK massal karyawannya. (foto: ist)

Toko Buku Gunung Agung dikabarkan PHK massal karyawannya. (foto: ist)

Sebelumnya, di tahun 2020, Toko Buku Gunung Agung sudah lakukan yang efisiensi dengan menutup beberapa outlet atau toko yang tersebar di beberapa kota, yaitu, Semarang, Surabaya, Magelang, Gresik, Bogor, Jakarta dan Bekasi.

Penutupan outlet tersebut dilakukan saat sedang masa pandemi Covid-19.

penutupan itu juga terjadi akibat perusahaan sedang bermasalah dengan biaya biaya operasional yang cukup besar serta tak sebanding dengan pencapaian penjualan di setiap tahunnya yang semakin berat dan itu terjadinya saat pandemi Covid-19 menyerang di awal 2020.

Pada Mei 2023, perusahaan pun memutuskan jika pada akhirnya Toko Buku Gunung Agung gulung tikar dan bakal menutup seluruh outletnya karena terus mengalami kerugian.

Baca Juga : Mengenal Geopark Ciletuh Sukabumi, Ini Sejarah dan Wisatanya

Selain itu, Toko Buku Gunung Agung dikabarkan telah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap ratusan karyawannya.

Kabar PHK di Toko Buku Gunung Agung ini pertama dikabarkan oleh Asosiasi Serikat Pekerja Indonesia (Aspek Indonesia).

Aspek Indonesia diklaim sebagai induk organisasi dari Serikat Pekerja PT GA Tiga Belas (SP Gunung Agung).

Dilansir dari keterangan resmi, Direksi PT Gunung Agung Tiga Belas atau biasa dikenal Toko Buku Gunung Agung buka suara soal kabar PHK ratusan karyawan.

Pada rilis itu disebutkan 5 poin terkait PHK ratusan karyawan Toko Gunung Agung.

Baca Juga : Sejarah Hari Pendidikan Nasional, Peringati Kelahiran Ki Hajar Dewantara

Yang pertama, penyebab PHK karyawan disebabkan, sejak pandemi Covid-19 pada tahun 2020, Toko Buku Gunung Agung telah menutup sejumlah outlet atau toko di beberapa kota seperti di Jakarta, Bekasi, Bogor, Surabaya, Semarang, Gresik, dan Magelang.

Penutupan sejumlah outlet tersebut dengan alasan efisiensi.

Bukan cuma karena alasan Covid-19, penutupan sejumlah outlet juga demi keberlangsungan usaha dan untuk menutupi kerugian akibat biaya operasional yang besar.

Kemudian yang kedua, penutupan outlet yang terjadi pada tahun 2020 bukan merupakan penutupan yang terakhir.

Baca Juga : Ini Sejarah dan Tradisi Unik Lebaran Betawi

Pada akhir tahun 2023 ini rencananya akan kembali dilakukan penutupan outlet yang masih tersisa.

Lalu yang ketiga, dalam pelaksanaan penutupan outlet Gunung Agung, dilakukan secara bertahan dalam kurun waktu 2020 - 2023.

Hal itu sesuai dengan pedoman pada peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Selanjutnya yang keempat, Toko Buku Gunung Agung membenarkan telah menerima surat dari Aspek Indonesia tertanggal 24 Maret 2023.

Baca Juga : Hari Puisi Sedunia, Intip Sejarah dan Maknanya!

Pihal direksi Toko Buku Gunung Agung pun telah menanggapi seluruh surat dari Aspek Indonesia sesuai dengan kadaan yang sebenarnya.

Namun pihak direksi tidak mendapatkan tanggapan kembali dari Aspek Indonesia mau pun dari bekas pekerja yang terkena PHK.

Manajemen mengatakan, berdasarkan surat itu, disebutkan bahwa jumlah bekas pekerja Toko Buku Gunung Agung yang melakukan tuntutan melalui ASPEK Indonesia adalah 16 orang.

Belasan orang itu, kontrak kerjanya telah berakhir pada tahun 2022.

Baca Juga : 5 Rekomendasi Novel Sejarah Indonesia Terbaik, Ada Max Havelaar

Karenanya, kata Direksi, informasi yang berkembang terkait Toko Buku Gunung Agung telah melakukan PHK 350 orang adalah tidak benar.

Kemudian yang kelima, menindaklanjuti setiap surat yang diterima termasuk yang disampaikan oleh pihak ASPEK Indonesia, pemutusan kerja dilakukan sesuai dengan norma dasar yang berlaku tanpa menimbulkan sikap arogansi dari manajemen Toko Buku Gunung Agung.

Kendati demikian, Direksi menghormati setiap proses penyelesaian perselisihan hak ketenagakerjaan sesuai koridor hukum ketenagakerjaan yakni melalui proses bipartit dan tripartit.

Baca Juga : Hari Supersemar 11 Maret, Intip Sejarah dan Isinya

Dengan demikian, tegas Direksi terkait pemberitaan yang beredar, Toko Buku Gunung Agung seolah-olah dianggap telah melakukan PHK massal sebanyak 350 orang secara sepihak tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan adalah tidak benar.

Sebelumnya, sejak beberapa hari terakhir, ramai kabar soal adanya pemutusan hubungan kerja (PHK) secara massal pekerja PT GA Tiga Belas, perusahaan yang menaungi Toko Buku Gunung Agung.

Sebelumnya, Presiden Aspek Indonesia, Mirah Sumirat mengatakan, pihaknya telah mendapatkan laporan pengaduan dan permohonan advokasi terhadap kasus PHK massal secara sepihak di Toko Buku Gunung Agung.

Baca Juga : Hari Perempuan Internasional: Sejarah, Makna, dan Perjuangan Kesetaraan Gender

Dia menyampaikan, diperkirakan sebanyak 220 pekerja Gunung Agung telah di-PHK secara sepihak sejak tahun 2020 sampai dengan 2022.

Kata dia, PHK sepihak dan massal diketahui akan masih berlanjut di tahun 2023 ini, dan diperkirakan jumlahnya mencapai 350 pekerja.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

    SHARE
    Share Whatsapp Share Facebook Share Twitter Share Link