Beranda / Jakarta Raya

Prahara Pelabuhan Sunda Kelapa Cikal Bakal Lahirnya Kota Jakarta 

Terasjakarta.id - Sabtu, 1 April 2023 | 14:00 WIB

SHARE
Share Whatsapp Share Facebook Share Twitter Share Link
Pelabuhan Sunda Kelapa menjadi hal yang tidak terpisahkan dalam sejarah lahirnya kota Jakarta. (terasjakarta.id/ist)

Pelabuhan Sunda Kelapa menjadi hal yang tidak terpisahkan dalam sejarah lahirnya kota Jakarta. (terasjakarta.id/ist)

Penulis : Guruh Nara Persada
Editor : Guruh Nara Persada

JAKARTA, TERASJAKARTA.ID – Pelabuhan Sunda Kelapa tak bisa lepas dari asal usul sejarah kota Jakarta.

Mengingat pelabuhan Sunda Kelapa yang berlokasi di teluk Jakarta ini merupakan pusat perdagangan yang sangat penting di abad ke 12 sampai abad 16.

Saking pentingnya pelabuhan Sunda Kelapa membuat pusat perdagangan ini dilirik orang-orang Portugis yang telah bercokol sejak tahun 1511 di daratan Malaka.

Keinginan orang Portugis untuk berdagang di Pelabhan Sunda Kelapa ini pun disambut baik Raja Pajajaran yang saat itu mengusai lokasi tersebut.

Gedung Fatahillah tempo dulu menjadi pusat pemerintahan selama Pelabuhan Sunda Kelapa dikuasai pemerintah Belanda. (terasjakarta.id/ist)

Gedung Fatahillah tempo dulu menjadi pusat pemerintahan selama Pelabuhan Sunda Kelapa dikuasai pemerintah Belanda. (terasjakarta.id/ist)

Selain berkepentingan dalam soal perdagangan, Raja Pajajaranjuga bermaksud meminta bantuan Portugis dalam menghadapi orang-orang Islam yang pada waktu itu pengikutnya sudah sangat banyak di Banten dan Cirebon.

Baca Juga : Sejarah Soekarno Perintahkan Indonesia Tolak Lawan Israel demi Palestina

Pasalnya saat itu Demak telah menjadi pusat pusat kekuasaan Islam.

Perjanjian kerjasama dutandatangani pada tahun 1522 antara Raja Pajajaran dan orang Portugis.

Dimana dalam perjanjian itu orang Portugis dibolehkan mendirikan benteng di sekitar Pelabuhan Sunda Kelapa.

Baca Juga : Sejarah dan Keindahan Masjid Sayyidah Zainab yang Tetap Kokoh Diguncang Gempa Turki-Suriah

Sebuah tugu dibangun di tepi Sungai Ciliwung menandai perjanjian itu.

Namun perjanjian itu tidak dapat diterima oleh kerajaan Islam di Demak yang saat itu sedang berada di puncak kejayaannya.

Sungai Ciliwung yang menjadi hulu dari Pelabuhan Sunda Kelapa memiliki peran penting dalam perdagangan Jayakarta. (terasjakarta.id/ist)

Sungai Ciliwung yang menjadi hulu dari Pelabuhan Sunda Kelapa memiliki peran penting dalam perdagangan Jayakarta. (terasjakarta.id/ist)

Menindaklanjuti perjanjian itu, Sultan Demak mengirimkan menantunya yang bernama Fatahillah bersama tentara untuk menyerbu Sunda Kelapa.

Baca Juga : Hari Puisi Sedunia, Intip Sejarah dan Maknanya!

Pasukan Fatahillah berhasl menduduki kota pelabuhan Sunda Kelapa pada tahun 1527.

Ketika armada Portugis datang, pasukan Fatahillah menghancurkannya. Sisa-sisa armada Portugis melarikan diri ke Malaka.

Fatahillah pun mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta yang artinya ‘Kemenangan Berjaya’ untuk menandai kemenangan pasukannya tersebut.

Berdasarkan perhitungan penggantian nama Sunda Kelapa tersebut terjadi tanggal 22 Juni 1527 yang menjadi cikal bakal hari lahirnya kota Jakarta.

Baca Juga : 5 Rekomendasi Novel Sejarah Indonesia Terbaik, Ada Max Havelaar

Di bawah pemerintahan Fatahillah, daerah kekuasaan Jayakarta makin meluas. Bahkan sampai ke daerah Banten. Maka Banten pun akhirnya menjadi kerajaan Islam.

Mulai saat itu pemerintahan atas daerah Jayakarta dipegang oleh sultan-sultan Banten.

Orang Belanda diperbolehkan berdagang di Pelabuhan Sunda Kelapa 

Pada tahun 1595, Cornelis de Houtman, tiba di perairan Banten. Namun orang-orang Belanda baru diperbolehkan berdagang di Jayakarta pada tahun 1617.

Orang-orang Belanda memperoleh sebidang tanah di Perkampungan Cina yang terletak di sebelah timur Sungai Ciliwung yaitu di Perkampungan Cina.

Baca Juga : Sejarah Serangan Umum 1 Maret 1949, Dampak Bagi Kemerdekaan Indonesia

Apa yang dilakukan oleh orang-orang Belanda itu tidak menyenangkan orang-orang Jayakarta, Banten dan Inggris.

Sehingga pada tahun 1618, Belanda mendapat kesukaran dari ketiga kekuatan tersebut.

Peta Pelabuhan Sunda Kelapa yang menjadi pusat perdagangan di masa pemerintahan kerajaan Pajajaran sekaligus cikal bakal lahirnya kota Jakarta. (terasjakarta.id/ist)

Peta Pelabuhan Sunda Kelapa yang menjadi pusat perdagangan di masa pemerintahan kerajaan Pajajaran sekaligus cikal bakal lahirnya kota Jakarta. (terasjakarta.id/ist)

Perlawanan melalui pertempuran pun terjadi di tahun 1619 antara orang-orang Belanda dengan orang Inggris.

Jan Pieterszoon Coen (JP Coen) pergi mencari bantuan orang-orang Belanda yang ada di Maluku.

Baca Juga : Sejarah Masjid Raya Jakarta Islamic Centre, Dibangun di Lahan Bekas Lokalisasi Terbesar di Asia Tenggara

Dengan bantuan itu, JP Coen kembali lagi untuk menaklukkan Jayakarta. Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 30 Mei 1619.

Sejarah Jayakarta memasuki babak baru setelah Jp Coen berhasil melakukan penaklukan. Nama Jayakarta oleh orang Belanda diganti menjadi Batavia yang berasal dari nama Batavieren.

Baca Juga : Hari Supersemar 11 Maret, Intip Sejarah dan Isinya

Sebenernya JP Coen menginginkan nama Niew Hoorn untuk menggantikan nama Jayakarta.

Namun pimpinan VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie) atau Persekutuan Dagang Hindia Timur atau Kompeni di negeri leluhur mereka tidak menyetujuinya.

Batavia oleh VOC mula-mula dijadikan tempat pertemuan perdagangan kemudian juga pusat pemerintahan.

Politik adu domba jadi senjata Belanda

Kepandaian Kompeni dalam mengadakan intrik dan politik adu domba (devide et impera) terhadap raja-raja di Indonesia menyebabkan wilayah kekuasaannya menjadi semakin luas hingga mencakup hingga seluruh wilayah Indonesia.

Setelah berjaya dalam waktu yang cukup lama, VOC akhirnya mengalami masa surut, jatuh pailit pada tahun 1798 dan dibubarkan.

Baca Juga : Hari Perempuan Internasional: Sejarah, Makna, dan Perjuangan Kesetaraan Gender

Kekuasaan, harta benda dan utang-utang sejumlah 134,7 gulden diambil alih oleh pemerintah Belanda.

Di sinilah dimulainya Indonesia secara resmi diperintah langsung oleh Pemerintah Belanda yang berupa majelis yang mengurus jajahan Asia pada tanggal 1 Januari 1800.

Ketika Jepang merebut kekuasaan dari tangan Belanda pada perang dunia ke dua awal Maret 1942 nama Batavia dikubur digantikan menjadi Jakarta hingga sekarang ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

    SHARE
    Share Whatsapp Share Facebook Share Twitter Share Link