Dilempar HT Polisi saat Razia, Siswi SMP di Purworejo Terancam Buta

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: article/article_view.php

Line Number: 13

Backtrace:

File: /home/admin/public_html/terasjakarta.id/cszcms/modules/plugin/views/article/article_view.php
Line: 13
Function: _error_handler

File: /home/admin/public_html/terasjakarta.id/cszcms/third_party/MX/Loader.php
Line: 357
Function: include

File: /home/admin/public_html/terasjakarta.id/cszcms/third_party/MX/Loader.php
Line: 300
Function: _ci_load

File: /home/admin/public_html/terasjakarta.id/cszcms/libraries/Template.php
Line: 119
Function: view

File: /home/admin/public_html/terasjakarta.id/cszcms/libraries/Template.php
Line: 96
Function: load

File: /home/admin/public_html/terasjakarta.id/cszcms/modules/plugin/controllers/Article.php
Line: 278
Function: loadSub

File: /home/admin/public_html/terasjakarta.id/index.php
Line: 338
Function: require_once



Powered by CSZ CMS | Open Source Content Management with responsive
3 5 19 News
Dilempar HT Polisi saat Razia, Siswi SMP di Purworejo Terancam Buta

terasjakarta.id


Seorang siswi kelas 3 SMP di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah (Jateng), Layla Putri Ramadhani (15), terancam buta. Matanya mengalami luka serius akibat terkena handy talkie (HT) yang diduga dilempar oknum polisi lalu lintas Polres Purworejo, Selasa (30/4/2019) lalu.

Hingga saat ini, Layla masih menjalani perawatan di Rumah Sakit (RS) dr Sardjito Yogyakarta. Siswi kelas IX SMP Negeri 2 Purworejo itu mengaku menjadi korban pelemparan HT saat polisi menggelar Operasi Keselamatan Candi 2019.

Menurut nenek korban, Kusbandiyah (76), warga Desa Bedug RT 03/ RW 02, Kecamatan Bagelen, saat ditemui di rumahnya, sebelum kejadian itu, cucunya dibonceng temannya Fikri (15), naik sepeda motor. Keduanya yang masih mengenakan seragam SMP hendak ke berfoto-foto di kawasan Sucen untuk keperluan katalog perpisahan.

Sampai di pertigaan Jalan Lengkong, Kecamatan Banyuurip, polisi ternyata sedang menggelar Operasi Keselamatan Candi 2019. Masalahnya, teman cucunya tidak berhenti dan menerobos polisi karena tidak mau terkena razia. Namun, aksinya diketahui oleh polisi yang bertugas.

”Mungkin takut atau bagaimana saya tidak tahu makanya kabur. Trusm ungkin Layla penasaran, pas melihat, matanya kena lempar HT,” kata Kusbandiyah, Kamis (2/5/2019).

Setelah melaju beberapa meter dari lokasi razia, korban meminta temannya berhenti karena ada pendarahan di matanya. Layla kemudian meminta temannya membawa dia RSUD Tjitro Wardoyo untuk memeriksakan matanya. Namun, karena peralatan yang kurang lengkap, akhirnya Layla dirujuk ke RS Sardjito DIY untuk penanganan selanjutnya.

Bibi korban, Tri Wahyuni menjelaskan, keponakannya akhirnya harus menjalani operasi mata bagian kanan. Dari keterangan dokter kepada keluarga, operasi hanya untuk menghentikan pendarahan dan meringankan luka. Namun, Layla tetap terancam mengalami kebutaan. Apalagi, mata kirinya sudah pernah dioperasi juga karena katarak.

“Kalau dokter bilang diagnosanya bola matanya sobek. Jadi operasi tadi pagi jam 8 itu bukan untuk pengembalian penglihatan, tapi untuk mengobati, menjahit bola mata yang sobek supaya pendarahan berhenti dan mengurangi rasa nyeri,” katanya.

Dia menambahkan, sehari-hari Layla dikenal sosok yang pendiam dan berprestasi. Dia pernah meraih juara menari klasik tingkat kabupaten dan provinsi. Saat ini, dia berkeinginan untuk melanjutkan sekolah di SMA Negeri 7 Purworejo.

Sejak ayahnya meninggal dan ibunya bekerja di Jakarta, anak bungsu dari tiga bersaudara ini tinggal bersama neneknya di Kecamatan Bagelen serta kedua kakaknya.

Dari keterangan Tri Wahyuni, oknum polisi sudah menjenguk korban ke RS Sardjito. Polisi tersebut sudah meminta maaf kepada korban dan ibunya. Dia juga membiayai operasi dan pengobatan Layla.

Rencananya, pihak kepolisian Kanit Laka Ipda Musthofa akan memberikan keterangan kepada media sore ini mengenai kejadian yang dialami Layla.

Related Post

Comment