Terkait Pengurusan DAK, KPK Geledah Ruangan Adik Nazaruddin, M Nasir

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: article/article_view.php

Line Number: 13

Backtrace:

File: /home/admin/public_html/terasjakarta.id/cszcms/modules/plugin/views/article/article_view.php
Line: 13
Function: _error_handler

File: /home/admin/public_html/terasjakarta.id/cszcms/third_party/MX/Loader.php
Line: 357
Function: include

File: /home/admin/public_html/terasjakarta.id/cszcms/third_party/MX/Loader.php
Line: 300
Function: _ci_load

File: /home/admin/public_html/terasjakarta.id/cszcms/libraries/Template.php
Line: 119
Function: view

File: /home/admin/public_html/terasjakarta.id/cszcms/libraries/Template.php
Line: 96
Function: load

File: /home/admin/public_html/terasjakarta.id/cszcms/modules/plugin/controllers/Article.php
Line: 278
Function: loadSub

File: /home/admin/public_html/terasjakarta.id/index.php
Line: 338
Function: require_once



Powered by CSZ CMS | Open Source Content Management with responsive
5 5 19 News
Terkait Pengurusan DAK, KPK Geledah Ruangan Adik Nazaruddin, M Nasir

terasjakarta.id


Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggeledah ruang kerja adik Muhammad Nazaruddin, Muhammad Nasir. Penggeledahan itu terkait kasus politikus Partai Golkar Boro Sidik Pangarso (BSP).

Juru bicara KPK Febri Diansyah mengatakan, penggeledahan yang dilakukan tim penyidik KPK terkait pengurusan dana alokasi khusus (DAK). Diduga, Bowo Sidik Pangarso menerima gratifikasi terkait pengurusan DAK yang berhubungan dengan Muhammad Nasir.

"Penggeledahan di ruang kerja Anggota DPR ini diduga dengan pengurusan DAK," katanya di Gedung Merah Putih KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (4/5/2019).

Saat ditanya awak media, di mana tepatnya DAK tersebut dan berasal dari mana Bowo mendapatkan dana gratifikasi, Febri enggan menjelaskan. Mantan aktivis Indonesia Corruption Watch (ICW) itu mengaku, pihaknya belum dapat menyampaikan informasi lebih rinci.

"Saya kira sebaiknya tidak terburu-buru menyimpulkan siapa pemberi gratifikasinya karena KPK atau penyidik bisa melakukan penggeledahan untuk melakukan penelusuran bukti adanya informasi," ujarnya.

Hingga saat ini KPK sudah mengidentifikasi tiga sumber uang gratifikasi yang diduga diterima Bowo Sidik. Febri menjelaskan, pihaknya masih mengembangkan penyidikan kasus gratifikasi Bowo Sidik.

KPK pun bakal memanggil sejumlah saksi yang dianggap mengetahui kasus tersebut. Pemeriksaan saksi rencananya akan dimulai pada bulan ini.

Sebelumnya, KPK mengamankan uang Rp8 miliar yang dimasukkan ke dalam 400.000 amplop dalam pecahan Rp20 ribu sampai Rp50 ribu. Uang itu diduga akan digunakan Bowo untuk serangan fajar pada Pemilu 2019.

Salah satu sumber uang dari total Rp8 miliar itu diterima Bowo bersumber dari fee PT Humpuss Transportasi Kimia (PT HTK) sebanyak enam kali penerimaan, sejumlah Rp221 juta dan 85.140 dolar Amerika.

Atas perbuatannya Bowo disangkakan Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 dan/atau Pasal 12 B Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Related Post

Comment