Loading...

Advertisement

Warga PIK Butuh Pasokan Air Bersih, Gembong: Kami Akan Panggil Pengembang

Warga PIK Butuh Pasokan Air Bersih, Gembong: Kami Akan Panggil Pengembang
Editor : Potan News — Jumat, 4 Oktober 2019 09:01 WIB
terasjakarta.id


Sejumlah warga perumahan Pantai Indah Kapuk melakukan audensi dengan anggota DPRD DKI fraksi PDIP. Dalam pertemuan itu warga meminta dewan untuk memperjuangkan hak mereka dalam mendapatkan air bersih.

Untuk diketahui, pengembang perumahan tidak lagi memasok air bersih dengan alasan musim kemarau. Kejadian tersebut sudah berlangsung sejak tahun 2014. Warga meminta agar PAM Jaya supaya menyalurkan air ke kawasan PIK.

"Setiap kemarau, kami kesulitan air bersih antara 4-5 bulan. Pipa air bersih dari PAM Jaya atau Pemda tidak ada, hanya dari water treatment plant (WTP) yang disediakan pengembang. Kemarin saja, lima hari tidak ada suplai air, sehingga kami inisiatif beli air curah," ujar koordinator warga Pantai Indah Kapuk, Oscar saat beraudiensi dengan fraksi PDIP DPRD DKI Jakarta, Kamis (3/10).

Oscar mengatakan, kualitas air dari pengembang pun sangat jelek. Bahkan, beberapa warga mengalami gatal-gatal dan diare karena menggunakan air yang berasal dari Kali Angke itu. Dia berharap, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bisa memasok air bersih ke tempatnya.

"Beberapa kejadian ada gatal-gatal atau muntaber. Karena kualitas air bau, berwarna keruh kemudian kadang-kadang ada cacing dan kotoran. Untuk itu, kami berharap ditarik pipa dari PAM Jaya ke wilayah kami. Tapi kami dengar, tidak ada anggaran dari pemerintah untuk masuk ke daerah kami karena itu masih kewajiban pengembang," katanya.

Dia mengungkapkan, wilayah perumahan PIK dihuni oleh lebih dari 10 ribu kepala keluarga. Namun, warga yang berada di Kelurahan Kapuk Muara dan Kamal Muara seringkali kekurangan air bersih setiap musim kemarau tiba.

"Pihak pengembang sebenarnya menyiapkan air curah atau air tangki pada jam tertentu. Tapi tidak cukup, karena hanya disiapkan dua unit mobil tangki. Beberapa warga berinisiatif membeli air curah, tapi harganya mahal, Rp 80 ribu per kubik. Kalau dari PAM Jaya kan cuma Rp 7 ribu per kubik. Kalau dari pengembang, sekitar Rp 25 ribu per kubik," ungkapnya.

Ketua Fraksi PDIP DPRD DKI Jakarta, Gembong Warsono mengungkapkan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kesulitan masuk ke kawasan PIK karena pengembang belum menyerahkan kewajiban fasos/fasum. Dia mengaku akan segera memanggil pihak terkait agar permasalahan warga PIK segera teratasi.

"Saat ini warga kesulitan mendapatkan air bersih karena pengembang juga sulit mendapatkan air bersih. Kenapa Pemprov DKI Jakarta tidak bisa mengelola, karena pengembang belum menyerahkan kewajibannya. Nanti kita duduk bareng, PDAM kita undang, Agung Sedayu kita undang dan Pemprov kita undang," tegasnya.

warga PIK air bersih

Loading...

Related Post