Loading...

Advertisement

Atlet Shalfa Avriani Nangis, Tegaskan Perawan & Tak Langgar Agama

Atlet Shalfa Avriani Nangis, Tegaskan Perawan & Tak Langgar Agama
Editor : Melati News — Minggu, 1 Desember 2019 14:44 WIB
terasjakarta.id

Atlet senam artistik, Shalfa Avrila Siani terpaksa gagal ikut SEA Games karena dugaan tak perawan. Perempuan 17 itu akhirnya buka suara. Shalfa mengaku tertekan oleh persoalan tersebut, apalagi berimbas pada orang tuanya.

Saat ditemui di rumahnya di Jalan Abdul Karim, Kelurahan Lirboyo, Kota Kediri, Shalfa mengungkap dirinya sangat sedih, malu, dan tertekan menghadapi isu dan kabar tersebut. Ditambah, saat ini Shalfa masih tinggal dan menimba ilmu di Gresik, meskipun sudah tidak tinggal di asrama.

Ia merasa putus asa terhadap semuanya karena isu dan tuduhan tidak perawan yang diduga diucapkan oleh tim pelatih senam.

"Saya sudah tidak bisa seperti dulu lagi, serba malu dan stres jika ketemu atau diajak omong soal senam. Saya sudah tidak mau lagi ketemu sama orang-orang itu, saya sedih," ucap Shalfa dilansir detikcom.

Sambil menangis dalam pelukan sang Bunda, Shalfa bilang, mungkin dirinya melakukan kesalahan dan tidak disiplin sebagai seorang atlet. Namun, tidak terima jika harus dikeluarkan dari tim atlet dengan isu tidak lagi perawan. Shalfa juga merasa kasihan kepada keluarganya, terutama ibunya atas anggapan orang sekitar.

"Saya menerima jika memang saya salah dan dianggap indisipliner dalam keseharian saya, namun jangan seperti ini. Kasihan orang tua saya menerima kabar itu. Bahkan menurut hasil pemeriksaan, saya masih perawan, dan saya tidak pernah berbuat hal yang dilarang agama," ucap Shalfa.

Jika memang tak terbukti tuduhan tersebut, artinya Shalfa menjadi korban pencemaran nama baik. Efeknya pun enggak main-main lho, Bunda. Ada empat tahapan saat korban mengalami pencemaran nama baik. Mulai dari yang tak percaya dengan tuduhan hingga membuat korban pencemaran nama baik ini merasa hancur.

Dijelaskan Nicholas Carrol dalam bukunya Fighting Slander, tahap pertama yaitu korban merasa tidak percaya, heran, dan kemudian kebingungan. Tiga fase ini terjadi begitu cepat.

"Tahap kedua adalah rasa ingin tahu. Ketika tuduhan itu meresap, pikiran mereka mulai berfungsi, dan mereka ingin tahu dari mana tuduhan itu berasal," tulis Carrol.

Tahap ketiga biasanya penyangkalan tapi ini juga berlangsung sangat cepat. Yang paling parah adalah tahap empat. Di tahap ini semuanya tergantung isi pikiran korban. Korban bisa bertahan dengan kemampuan mereka untuk bernalar atau sebaliknya. Korban mulai menyerah, cemas, dan merasa teraniaya.



atlet shalfa

Loading...

Related Post