Loading...

Advertisement

Pelaksanaan PSBB di Jakarta Memasuki Periode Krusial, Katar: Warga Wajib Disiplin

Pelaksanaan PSBB di Jakarta Memasuki Periode Krusial, Katar: Warga Wajib Disiplin
ist
Editor : Potan News — Rabu, 20 Mei 2020 14:58 WIB
terasjakarta.id
Ketua Koalisi Rakyat Pemerhati Jakarta Baru (Katar) Sugiyanto menilai, penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tahap III di Jakarta yang dimulai pada 22 Mei hingga 4 Juni 2020 merupakan periode krusial dan masa genting bagi kehidupan di Ibukota.

Pasalnya, jika periode krusial ini tidak dapat dilewati dengan baik, maka kemungkinan besar warga Jakarta mau tak mau harus hidup damai dengan Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) hingga vaksin virus itu ditemukan seperti dikatakan Presiden Jokowi, dan hidup dalam konsep The New Normal.

Pasalnya, Gubernur Anies Baswedan mengatakan, penerapan PSBB tahap III merupakan periode penghabisan atau yang terakhir.

"Karena itu periode ini harus dapat dilalui dengan baik," ujar Sugiyanto, saat dihubungi, Rabu (20/5).

Menurut aktivis yang akrab disapa SGY ini, PSBB tahap III menjadi periode krusial dan masa genting, karena sejak PSBB diberlakukan di Jakarta pada 10 April, dan telah diperpanjang hingga dua kali (tiga tahap), telah membuat masyarakat berada di puncak titik kejenuhan dan frustasi.

Masyarakat jenuh karena sejak 10 April harus tetap berada di rumah, melakukan social distancing dan kemana-mana harus pakai masker, sehingga jangankan dapat berpergian jauh, melaksanakan ritual keagamaan di tempat ibadah pun tak diizinkan.

"Apalagi saat ini sudah menjelang akhir Ramadhan dan akan masuk 1 Syawal di mana umat Islam merayakan Hari Raya Idul Fitri. Sebagaimana kita tahu, umat Islam di Indonesia punya tradisi silaturahmi saat merayakan lebaran. Bayangkan, pemerintah telah melarang mereka mudik, kemudian mereka juga tak dapat bersilaturahmi dengan keluarga yang tinggal di satu kota. Bagaimana rasanya?" kata dia.

Masyarakat Jakarta telah mencapai titik frustasi, menurut Sugiyanto, karena sejak PSBB diberlakukan pada 10 April, ratusan ribu karyawan yang bekerja di luar 11 sektor industri, seperti di perusahaan garmen, industri elektronik dan lain-lain, ada yang di-PHK dan ada juga yang dirumahkan dengan tanpa digaji atau hanya digaji 25-50%.

Akibatnya, hidup mereka yang sudah susah, menjadi semakin susah. Jangankan untuk memenuhi kebutuhan lebaran, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari pun sulit, sehingga sangat mengharapkan mendapat bantuan dari pemerintah.

Menurut aktivis yang akrab disapa SGY itu, untuk dapat menyukseskan PSBB tahap III, harus ada gebrakan besar yang melibatkan semua pihak yang terkait, termasuk masyarakat.

Satpol PP sebagai penegak Perda, kata SGY, melaksanakan tugasnya dengan tegas dan tanpa pandang bulu; Dinas Kesehatan dan SKPD (satuan kerja perangkat daerah) lain yang terkait jangan lelah untuk memberikan imbauan; dan masyarakat disiplin dalam mematuhi ketentuan PSBB.

SGY mengakui, jika aparat Pemprov DKI telah berjibaku habis-habisan, namun masyarakat tetap abai dan tidak peduli pada protokol kesehatan, maka kesempatan untuk hidup normal seperti sebelum ada pandemi setelah PSBB tahap III selesai, akan terbuang percuma.

"Karena itu, kuncinya juga ada di masyarakat," pungkasnya.

Seperti diketahui, Jakarta sempat menjadi episentrum penyebaran Covid-19 di Indonesia, sehingga provinsi ini menjadi yang pertama menerapkan PSBB.

Pada penerapan tahap I (10-24 April), PSBB tak sepenuhnya berhasil karena penularan tetap tinggi, sehingga diperpanjang pada 24 April - 22 Mei (tahap II), dan diperpanjang lagi untuk periode 22 Mei - 4 Juni. (tahap III)

Anies mengatakan, kurva penularan virus asal China itu saat ini telah mulai melandai, sehingga PSBB tahap III akan menjadi periode penghabisan.

PSBB Jakarta Katar Wajib Disiplin

Loading...

Related Post