Loading...

Advertisement

Idul Fitri Dirundung Corona

Idul Fitri Dirundung Corona
Tendri S (ist)
Editor : Potan News — Sabtu, 23 Mei 2020 19:00 WIB
terasjakarta.id

Genderang perang  melawan corona masih terus ditabuh. Kita belum bisa menikmati hasil, seperti  nikmatnya saat  kita berbuka puasa. Perjalanan masih panjang karena  corana masih setia mengelilingi kita, meski kita sudah dua bulan tinggal di rumah. 

Ditengah ketakutan akan corona. Banyak hikmah yang kita dapat, puluhan juta kepala keluarga belajar menghafal ayat- ayat Al’quran kembali karena harus menjadi  imam sholat taraweh di rumah. Anak- anak kita sholat dan tarawehnya lebih khusyuk karena sholatnya berjamaah dengan kita di rumah. 

Mungkin Allah ingin memperbaiki ibadah kita selama ini. Betapa banyak kita beribadah hanya mengagungkan simbol semata. Berbuka puasa bersama di mall-mall dan taraweh bersama jadi prestise. Sehingga kita jarang berbuka puasa ditengah keluarga.

Sholat dan berpuasa adalah ibadah vertikal, urusan manusia dengan Allah. Allah tidak mau ibadah ini ada riya’ dan tidak khusyuk. Mungkin ibadah sholat dan sholat taraweh kita di masjid selama ini lebih banyak riya’ maka Allah menginginkan kita beribadah di rumah. Begitu juga dengan puasa yang lebih banyak prestisenya dari pada ke ikhlasannya.

Kita telah melaksanakan puasa sebulan penuh, semoga lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Puasa kita terjaga karena kita lebih banyak tinggal di rumah. Mata kita terjaga dari pemandangan puser dan terbukanya dada perempuan belia, karena kita tidak main ke Mall.

Allah mewajibkan puasa adalah untuk kepentingan kita.  Disamping untuk kesehatan dan latihan pengendalian hawa nafsu,  Allah ingin kita  bersih dan  suci. Pengendalian hawa nafsu kita jaga dan jalankan terus,  dimulai dari satu syawal sampai bertemu Ramadan tahun depan.

Kalau kita bisa menerapkan hasil puasa
 ini kedalam kehidupan sehari- hari, insya Allah, kerakusan, kezaliman dan penindasan akan hilang di muka bumi ini. Kita akan hidup dengan dunia yang lebih baik, karena keseimbangan sosial dan keseimbangan alam akan tertata dengan baik.  Sehingga Allah akan bertambah sayang kepada kita, karena kita  mampu melaksanakan tugas khalifah di dunia ini.

Fitri  kali ini mungkin kita tidak bisa berkumpul dengan keluarga besar. Mudik,  pakai baju baru dan tidak tersedianya  kue- kue di tiap rumah. Semuanya itu  adalah budaya. Kita terlalu bergembira  memaknai  kemenangan melawan setan selama bulan Ramadan. Sehingga kesucian bagaikan terlahir kembali  dimaknai dengan memakai baju baru dan limpahan kue-kue.  

Sebenarnya kemenangan melawan setan disyukuri  dengan  memperbanyak takbir dan tahmid,  Mengagungkan Allah bahwa kita sangat kecil dan lemah di mata Rabb yang menciptakan kita. Kita dalam keadaan fitri dan rindu untuk bercinta dengan Allah kembali. Kita menangis memanggil dan memuji Rabb; Allaahu akbar Allaahu akbar Allaahu akbar.Laa ilaaha illalaahu wallaahu akbar. Allaahu akbar wa lilaahil ham-du. Kefitrianlah yang bisa mendekatkan kita dengan Allah.

Mungkin kali ini kita sholat Idul fitri di rumah.  Tumpahnya umat sholat idul fitri di masjid dan di lapangan seperti di tahun- tahun sebelumnya, tidak  akan kita temui di Idul Fitri kali ini. 
Sholat Idul fitri di masjid dan di lapangan  adalah syiar dan ada makna  persatuan di dalamnya.
Allah ingin umatnya  bersatu, jangan ada lagi pengkotak-kotakan sesama  kita.  Berkumpul sholat  di lapangan memakai baju koko dan mukena putih, melambangkan  kita putih bersih , tanpa ada setitik noda di tubuh kita.

Allah menginginkan kita bersatu, maka mulai idul fitri ini umat Islam jangan bergaduh lagi, Jangan ada lagi  para ulama yang terbelah  karena  mendukung capres . Jangan ada lagi pertengkaran antar mazhab. apalagi ribut sesama ormas  Islam.  Jangan lagi sesama  kita, merasa paling benar sendiri dan mengkafirkan saudara sesama muslim.

Setiap kita sholat, kita selalu membaca surat alfatihah. Ada ayat  “ Ihdinash sihraathal mustaqiim" yang artinya tunjukilah kami jalan yang lurus. Kalau masih minta tunjukkin  jalan yang lurus, berarti manusia itu belum benar dan masih banyak salahnya.

Kegaduhan umat islam selama ini disebabkan  kepentingan.  Untuk mempertahankan kepentingannya, maka manusia  akan mencari hadist- hadist yang  mendukung kepentingannya. Makanya kita suka melihat para ulama saling berseberangan, memakai hadist yang berbeda untuk satu masalah.

Kalaulah sulit menyelesaikan perbedaan ini, mari kita tutup buku hadist dan Al’quran. Kita gunakan akal yang diberi  Allah, untuk mencari lewat pintu kebenaran.  Persoalan; kemanusiaan, keadilan, hukum, ekonomi, politik, hak azasi manusia, kesehatan, ilmu pengetahuan,  menjaga alam  dan keseimbangan sosial , kita kaji lewat pintu kebenaran.  Kalau kita sudah menemukan jawabannya, pasti jawaban itu tidak berbeda dengan Al'quran. Karena semua persoalan hidup di dunia  ini sudah diatur dalam Al’quran

Sebaiknya mulai satu syawal tahun ini para ulama meletakan kepentingan pribadi di bawah kepentingan umat dan agama Islam. Sehingga persatuan umat Islam yang digambarkan Allah lewat sholat Idul fitri, idul adha dan tawaf di Mekah. Bisa di wujudkan.

Apalagi saat ini kita menghadapi corona, persatuan dan kesatuan sangat kita butuhkan. Jangan lagi kita persoalkan sholat di masjid atau di rumah. Sholat itu komunikasi dengan Allah, mengadu dan berkasih-kasihan dengan Allah. Yang dibutuhkan adalah kekhusyukan dan kecintaan kepada Allah. Memang lebih bagus di masjid, tapi kalau sholat di masjid mengandung riya’ dan tidak khusyuk, maka lebih baik di rumah. Kalaupun  kita  rindu dengan masjid, Allah mengetahuinya, karena Allah maha tahu. 
  
WHO mengeluarkan pernyataan bahwa membutuhkan waktu satu tahun atau dua tahun kedepan untuk menemukan vaksin  virus covid 19. Tidak mungkin kita tinggal di rumah terus. Ekonomi keluarga harus berjalan.  Untuk mengatasi ini, presiden Indonesia mengeluarkan pernyataan, kita akan memasuki kehidupan “ new normal”. Kita harus bisa hidup berbagi dengan virus covid 19. Kita mulai bisa hidup jaga jarak, hidup bersih. Jasmani dan hati kita harus bersih. Kebersihan hati dan jasmani kita di bulan syawal ini, kita jadikan modal untuk berdampingan hidup dengan corona.

Melawan dan melenyapkan pandemi corona bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tapi tanggung jawab bersama, karena yang mau diselamatkan adalah nyawa kita.

Selamat hari Raya Idul fitri 1441 Hijriah mohon maaf lahir bathin, semoga ke fitrian dan kemampuan mengendalikan nafsu  bisa memperkuat ukhuwah Islamiyyah, memperkuat persatuan bangsa, sehingga kita bersatu padu melawan dan melenyapkan corona di muka bumi  ini.
Oleh: Tendri S
Penulis dan Budayawan

Idul Fitri Corona

Loading...

Related Post