Loading...

Advertisement

Kisah Hidup Dokter Tirta, dari Atheis Menjadi Mualaf

Kisah Hidup Dokter Tirta, dari Atheis Menjadi Mualaf
Editor : Melati News — Jumat, 29 Mei 2020 09:26 WIB
terasjakarta.id

Siapa yang tidak mengenal sosok dokter Tirta Mandira Hudhi. Namanya mulai dikenal masyarakat seiring merebaknya virus corona Covid-19 di Indonesia. Dokter lulusan Universitas Gadjah Mada ini kerap kali memberikan edukasi mengenai Covid-19 kepada masyarakat.

Menariknya, dr. Tirta memilih media sosial seperti Instagram, Twitter serta YouTube sebagai medianya. Selain itu, dokter Tirta juga sering membantu mendistribusikan sumbangan influencer ke rumah sakit untuk melawan Covid.

Namun siapa sangka, dokter Tirta memiliki kisah hidup yang menarik. Melansir dari beberapa sumber, berikut kisah hidup dokter Tirta dari Atheis hingga menjadi Mualaf.

Lahir di Keluarga Beda Agama

Melansir dari akun YouTube Rico Huang, Jumat (29/5/2020), dokter Tirta mengaku bila dirinya lahir di keluarga beda agama. Orangtua pria bernama lengkap dokter Tirta Mandira Hudhi ini ternyata memiliki keyakinan yang berbeda.

"Gue itu dilahirkan dari keluarga karyawan dan nyokap bokap itu beda agama," ungkap dokter Tirta.

Tanda Strip di Kartu Keluarga

Tak hanya itu, sejak SD (Sekolah Dasar) hingga SMA (Sekolah Menengah Atas), identitas agama dokter Tirta hanya berisi tanda strip di Kartu Keluarga.

YouTube @Masjid Agung Al Azhar ©2020 Merdeka.com

"Pada waktu berbeda agama itu, ketika lahir itu dari awal KK (identitas agama) ku itu 'strip'," paparnya yang dilansir dari akun YouTube Masjid Agung Al Azhar, Jumat (29/5/2020).

Membebaskan Anak Belajar Agama

Lahir di keluarga berbeda keyakinan, dokter Tirta awalnya disuruh untuk mengikuti agama sang ibu. Meski begitu, orang tua dokter Tirta membebaskan anaknya untuk belajar agama, apapun agamanya.

"Awal mula mengarahkan aku agar aku tuh seagama dengan ibu. Cuma, mereka membebaskan aku belajar (agama). itu yang aku suka dari mereka yang mungkin orangtua lain tidak akan seperti itu ya," paparnya.

Sejak Kecil hingga Kuliah Atheis

Beberapa tahun silam, dokter Tirta mengungkapkan jika sang ibu sempat terkena kanker dan mengharuskan rahimnya diangkat. Karena menjadi anak tunggal, sang ayah berkeinginan agar dokter Tirta memiliki agama yang sama dengan sang ibu. Tujuannya agar sang ibu tidak sendirian. Namun, dokter Tirta mengaku bila sejak kecil hingga kuliah dirinya Atheis.

YouTube @Masjid Agung Al Azhar ©2020 Merdeka.com

"Selama aku dari lahir sampai aku usia SMA, sampai kuliah di UGM, awal-awal aku Atheis," ungkapnya.

"Karena aku tidak, bukan, ya benar-benar seperti anggap itu logika saja lah," sambungnya.

Suka ke Gereja dan Masjid

Kendati begitu, dokter Tirta juga kerap kali pergi ke gereja dan masjid. Bahkan, sejak kecil dokter Tirta juga sering belajar mengaji (TPA) di masjid dan ikut sekolah minggu di gereja.

"Tetapi, aku ke Gereja dan kadang aku ke Masjid. Jadi, aku tuh berpikir jika ke Gereja masuk surga dan ke Masjid masuk surga, kalau saya jalani kedua-duanya tiket saya lebih banyak," kata dokter Tirta Mandira Hudhi.

"Aku dari SD tuh pasti ke TPA ke Masjid situ, tetapi hari minggu aku juga belajar Sekolah Minggu," sambungnya menceritakan.

Mengenal Arti Toleransi

Meski belajar mengenai dua agama yang berbeda, dokter Tirta justru bisa mengenal arti toleransi. Terlebih dokter Tirta sejak kecil sudah sering pergi ke masjid dan gereja.

YouTube @Masjid Agung Al Azhar ©2020 Merdeka.com

"Makanya dibilang, di situlah aku mengenai arti toleransi. Karena aku mengenal banyak orang dari kecil," ungkapnya.

Memutuskan Mualaf Saat Kuliah

Diterima di tiga Universitas ternama Indonesia, dokter Tirta kemudian memilih masuk ke Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Dari sinilah pria yang dikenal nyentrik itu mulai mengenal komunitas-komunitas agama di kampus. Dirinya juga mengaku kerap kali berdiskusi atau sekedar berbicara ringan dengan komunitas-komunitas tersebut.

"Aku lebih sering ngobrol sama mereka, dan aku memutuskan untuk Mualaf itu ketika tahun 2011-2012," ungkap dokter Tirta.

"Itu sudah Koas, sudah S.Ked (Sarjana Kedokteran)," jelasnya.

Tidak Sempat Belajar Islam di Kuliah

Menariknya, selama kuliah dokter Tirta tidak sempat mengenyam pendidikan Islam. Terlebih saat itu pendidikan dokter Tirta adalah Katholik.  

"Jadi, aku di kuliah tidak sempat mengenyam pendidikan Islam. Aku kuliah pendidikan ku Katholik dan aku Ketua Mahasiswa Katholik," paparnya.

YouTube @Masjid Agung Al Azhar ©2020 Merdeka.com

"Pada waktu 2012, papaku tuh Umroh, aku masih ingat. Papaku Umroh, dan ketika Umroh itu di pesawat, papaku tuh curhat bahwa dia di bully sama se-rombongan. Karena mengatakan 'percuma kamu Umroh, kalau kamu tidak bisa mendidik anak istrimu'. Karena non kan, non muslim, aku kesel banget tuh," cerita dokter Tirta.

"Tetapi papaku bilang 'itu memang pendapat dari publik'. Dari situ tuh aku mikir, ketika papaku Umroh di saat bersamaan aku itu menerima mimpi yang aneh," jelasnya.

Mendapat Mimpi Aneh

Lebih lanjut, dokter Tirta menceritakan mimpi yang sempat menghantuinya saat itu.

"Ya hidayah ku lewat mimpi. Jadi, pada waktu itu aku tidur, jam 4 sore. Dan ketika jam 4 sore itu aku tidur, di mimpi itu melihat diriku terbaring cuma aku naik ke lantai paling atas itu ada gerbang tinggi banget. Gerbangnya mungkin enggak terhingga lah, dijaga sama dua orang berbaju putih. Orang itu ngomong aku masuk pintu itu enggak boleh, kerana belum saatnya." ceritanya.

"Dua orang berbaju putih itu bercahaya banget. Dia mengarahkan ke sebuah rumah berwarna hijau. Dan aku bisa melihat di rumah hijau itu ternyata ada orang dan keranda hijau. Ada sembilan orang memakai sorban dan beberapa di antaranya aku tahu itu adalah salah satu imam besar di Mekah dan orang kedua itu adalah orang yang Mualaf-in aku. Ketiga adalah yang punya pondok pesantren di Monjali." sambungnya.

"Inikan ada sembilan orang di situ, nah aku disuruh duduk. Saat aku di suruh duduk, itu keranda hijau, dari keranda itu ada orang bangun. Tetapi, orang yang di keranda itu wajahnya bersinar banget, bersinarnya parah, parah banget dan aku enggak bisa lihat wajahnya. Dia enggak ada ngomong apapun, tetapi dia menitipkan sebuah surat ke dalam kantong dan waktu itu dia hilang dan satu kiai itu bilang sama aku 'suatu saat kamu tahu tugasmu sangat besar'," jelasnya.

"Setelah sejak saat itu, empat hari berturut-turut, setiap aku pagi dan itu enggak ada azan. Itu selalu ada orang yang aku dengar itu azan, tujuh hari berturut-turut. Kemudian aku cerita ke bapakku dan bapakku tuh cerita kalau pada saat Umroh saat di Kabah, beliau berdoa intinya mengarahkan saja. Saat itu juga aku memutuskan masuk Islam," ungkap dokter Tirta.



kisah hidup

Loading...

Related Post