Loading...

Advertisement

Katar Menilai Keputusan PSBB Transisi Pemprov DKI Dilematis dan Beresiko

Katar Menilai Keputusan PSBB Transisi Pemprov DKI Dilematis dan Beresiko
Ketua Koalisi Rakyat Pemerhati Jakarta Baru (Katar) Sugiyanto
Editor : Potan News — Senin, 12 Oktober 2020 11:10 WIB
terasjakarta.id

Ketua Koaliai Rakyat Pemerhati Jakarta Baru (Katar) Sugiyanto menilai, keputusan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memberlakukan lagi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Transisi di wilayahnya mulai Senin (12/10/2020) ini berisiko besar menaikkan lagi kasus paparan Covid-19 di Jakarta.

Pasalnya, tingkat penularan virus asal China itu masih tinggi, rata-rata di atas 1.000 kasus per hari.

"Keputusan Anies memberlakukan lagi PSBB Transisi mulai hari ini merupakan keputusan yang dilematis dan berisiko, karena meski Anies mengklaim bahwa tingkat penularan dalam 14 hari terakhir mengalami pelandaian, tapi kalau dilihat dari kasus harian masih sangat tinggi," kata Sugiyanto, saat dihubungi, Senin (12/10/2020).

Data corona.jakarta.go.id menyebutkan, sejak 26 September hingga 9 Oktober 2020 (14 hari), dari 6.127 hingga 12.890 orang yang dites per hari, orang yang dinyatakan positif Covid-19 per hari rata-rata berada di atas 1.000 orang. Terendah pada 4 Oktober 2020 karena dari 5.066 orang yang dites, yang positif hanya 696 orang, diikuti pada 27 September 2020 dimana dari 6.127 orang yang dites, yang positif sebanyak 807 orang.

Kasus positif harian tertinggi pada 29 September 2020 dimana dari 12.890 orang yang dites, yang positif Covid-19 sebanyak 1.353 orang, diikuti pada 26 Seotember dimana dari 11.215 orang yang dites, yang dinyatakan positif sebanyak 1.305 orang, dan pada 8 Oktober dimana dari 9.256 orang yang dites, yang positif sebanyak 1.163 orang.

Dari data ini, menurut SGY, penyebaran Covid-19 di Jakarta sebenarnya masih tinggi, karena jika tes dilakukan kepada lebih dari 9.000 orang, maka sedikitnya ditemukan 1.000 orang yang positif Covid-19.

Meski demikian aktivis yang akrab disapa SGY ini mengatakan, ia memahami keputusan Anies memberlakukan kembali PSBB Transisi, karena jika PSBB Jilid II diteruskan, ekonomi Jakarta akan makin terpuruk, karena PSBB Jilid II hanya mengizinkan 11 sektor yang tetap beroperasi, sementara yang lain harus tutup.

Dengan memberlakukan lagi PSBB Transisi,  jelas SBY, Anies kembali dapat membuka sektor-sektor yang ditutup tersebut, kecuali sektor yang dianggap dapat memunculkan klaster baru penularan Covid-19 seperti sektor pendidikan.

"Maka kini kedisiplinan warga terhadap protokol kesehatan, termasuk dalam menerapkan 3M, menjadi taruhan. Kalau PSBB Transisi kedua ini dapat menurunkan tingkat penularan Covid-19 di Jakarta, ke depan pandemi Covid-19 kemungkinan dapat dikendalikan. Jika tidak, maka bisa saja akan terjadi ledakan baru kasus Covid-19 di Jakarta," tegasnya.

Sementara itu dalam keterangan Pemprov DKI disebutkan, hasil pemantauan dan evaluasi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi DKI Jakarta memperlihatkan adanya pelambatan kenaikan kasus positif dan kasus aktif, meski diakui masih terjadi peningkatan penularan.

Pelambatan kenaikan kasus terjadi pada periode 26 September hingga 9 Oktober 2020 dimana pada periode ini hanya terjadi kenaikan kasus penularan sebanyak 22% (15.437 kasus), sementara pada periode 14 hari sebelumnya kenaikan mencapai 31 % atau 16.606 kasus.

Kasus aktif pada periode 26 September hingga 9 Oktober 2020 "hanya" meningkat  3,81% atau 492 kasus, sementara pada 14 hari aebelumnya meningkat 9,08% atau 1.074 kasus.

Sejak akhir September hingga awal Oktober jumlah kasus aktif harian mulai konsisten mendatar, menunjukkan adanya perlambatan penularan.

Untuk jumlah kasus meninggal dalam 7 hari terakhir sebanyak 187 orang, sedangkan minggu sebelumnya 295 orang.

"Hasil pengamatan 2 minggu terakhir terjadinya penurunan kejadian kematian pada kasus terkonfirmasi positif Covid-19. Penurunan ini terlihat sejak 24 September 2020 sampai dengan saat ini," jelas Anies.

Tingkat kematian atau CFR juga terus menurun, sehingga saat ini berada di angka 2,2%, sementara laju kematian juga menurun dari 28 menjadi 18 per hari.

Katar PSBB Transisi Pemprov DKI Dilematis dan Beresiko

Loading...

Related Post