Loading...

Advertisement

IPW Nilai Penangkapan Petinggi KAMI Sebagai Terapi Kejut Kepada Pengkritisi Pemerintah

IPW Nilai Penangkapan Petinggi KAMI Sebagai Terapi Kejut Kepada Pengkritisi Pemerintah
Ketua Presidium IPW, Neta S Pane (ist)
Editor : Potan News — Rabu, 14 Oktober 2020 10:51 WIB
terasjakarta.id
Indonesia Police Watch (IPW) menyebut, penangkapan delapan petinggi Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) adalah bagian dari terapi kejut bagi pengkritis penguasa. Sebab, IPW berpandangan kasus yang dituduhkan kemungkinan tidak sampai ke pengadilan. 
Ketua Presidium IPW Neta S Pane mengatakan, masa pemerintahan Jokowi sudah pernah terjadi penangkapan terhadap kelompok yang berbeda pandangan dengan pemerintah. Bahkan kata Neta, dengan tuduhan akan melakukan makar. 


"Padahal tuduhannya sangat serius, yakni makar. Tapi kok tidak lanjut ke pengadilan? Sebab rezim Jokowi pun tidak yakin dengan tuduhan makarnya, sehingga setelah ditahan beberapa minggu para aktivis kritis itu dibebaskan semuanya," kata Neta S Pane, melalui keterangan tertulis, Rabu (14/10). 

"Jadi tiga penangkapan terdahulu yang dilakukan rezim Jokowi hanyalah sekadar terapi kejut buat para aktivis kritis dan buat proses demokrasi," sambungnya. 

Lantas bagaimana dengan penangkapan Syahganda Nainggolan cs atau para petinggi KAMI? 

IPW menilai, kasus Syahganda cs setali tiga uang dengan kasus makar terdahulu. 

"Artinya, semua itu tak lain hanya sekadar tetapi kejut untuk para pengikut KAMI di tengah maraknya aksi demo buruh yang menolak UU Ciptaker yang kontroversial," ungkap Neta. 

IPW melihat, sejak semula rezim Jokowi sudah mengincar pergerakan dan manuver KAMI, yang dianggap cenderung menjengkelkan penguasa. 

Berbagai aksi penolakan di berbagai daerah sudah "dilakukan" tapi aktivis KAMI tetap "bandel" untuk bermanuver. 

"Untuk menangkap mereka tidak ada alasan yang tepat. Sebab ujug-ujug menangkap mereka pasti akan ramai-ramai dikecam publik," ujar Neta. 

Sehingga pas ada momentum aksi demo menolak UU Ciptaker, penangkapan terhadap para petinggi KAMI pun dilakukan. 

Menurut Neta, penangkapan ini sama seperti dilakukan rezim Jokowi terhadap Hatta Taliwang cs mapun Eggi Sudjana cs yang dilakukan saat akan terjadinya aksi demo besar di periode pertama pemerintahan Jokowi. 

Begitu juga saat ini, saat penangkapan terhadap Syahganda cs dilakukan, saat itu sedang maraknya aksi demo maupun rencana demo besar. 

Neta mengungkapkan, ada tiga tujuan penangkapan Syahganda cs. 

Pertama untuk mengalihkan konsentrasi buruh dalam melakukan aksi demo dan menolak UU Ciptaker. 

Kedua, memberi terapi kejut bagi KAMI dan jaringannya agar tidak melakukan aksi aksi yang "menjengkelkan" rezim Jokowi. 

Ketiga, menguji nyali Gatot Nurmantyo sebagai tokoh KAMI, apakah dia akan berjuang keras membebaskan Syahganda Cs atau tidak. 

"Jika dia terus bermanuver, bukan mustahil Gatot juga akan diciduk rezim, sama seperti rezim menciduk sejumlah purnawirawan di awal Jokowi berkuasa di periode kedua kekuasaannya sebagai presiden," kata Neta. 

Neta sendiri melihat tuduhan yang dikenakan kepada Syahganda cs adalah tuduhan ecek-ecek dan sangat lemah serta sangat sulit dibuktikan. 

Sehingga IPW melihat kasus Syahganda cs ini lebih kental nuansa politisnya. 

Sasarannya bukan untuk mencegah aksi penolakan terhadap UU Ciptaker tapi lebih kepada manuver untuk menguji nyali Gatot Nurmantyo. 

"Sehingga pada ujungnya nanti Syahganda cs diperkirakan akan dibebaskan dan kasusnya tidak sampai ke pengadilan, seperti empat kasus makar terdahulu, terutama kasus Hatta Taliwang cs," tutup Neta. 

Seperti diberitakan sebelumnya, Polri melakukan penangkapan terhadap delapan orang pimpinan KAMI di Jakarta dan Medan. 

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Awi Setiyono menyampaikan, delapan orang itu diciduk oleh tim Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri. 

"Yang ditangkap tim siber Bareskrim di Medan Juliana, Devi Khairi Amri, Wahyu Rasari Putri. Jakarta, Anton Permana, Syahganda Nainggolan, Jumhur Hidayat dan Kingkin," ungkap Awi, Jakarta, Selasa (13/10). 

Menurut Awi, delapan orang itu ditangkap lantaran diduga telah melakukan penghasutan terkait dengan demonstrasi penolakan UU Omnibus Law Cipta Kerja pada 8 Oktober 2020 lalu. 

"Iya terkait demo tanggal Oktober. Memberikan informasi yang menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan thd individu atau kelompok berdasarkan SARA dan penghasutan," ujar Awi.

IPW Penangkapan Petinggi KAMI Terapi Kejut

Loading...

Related Post