Loading...

Advertisement

Begini Alasan Syarief Buat Buku Berjudul 'Tangis Tawa Senyum' Catatan Perjalanan Aktivis Tanpa Angkatan

Begini Alasan Syarief Buat Buku Berjudul 'Tangis Tawa Senyum' Catatan Perjalanan Aktivis Tanpa Angkatan
foto terasjakarta.id
Editor : Potan News — Kamis, 15 Oktober 2020 08:44 WIB
terasjakarta.id

Politisi Partai Gerindra DKI Jakarta, Syarief meluncurkan buku Autobiografi dirinya dengan judul  'Tangis Tawa Senyum' Catatan Perjalanan Aktivis Tanpa Angkatan.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria, Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta dari Fraksi Gerindra Mohamad Taufik dan beberapa aktivis Jakarta hadir dalam peluncuran yang berlangsung di Hotel Aryaduta, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (14/10/2020) malam.

Awal acara Syarief mendapat kesempatan pertama bercerita soal buku biografi dirinya itu. Menurutnya, buku  tersebut mengisahkan soal perjalanan hidup sejak mulai menimba ilmu di salah satu pesantren di Cirebon hingga jenjang kuliah dan seorang aktivis sampai ketua DPD Partai Buruh dan bergabung ke Partai Gerindra hingga menjadi anggota DPRD DKI Jakarta.

Namun yang menarik dari apa yang disampaikan Syarief adalah, masalah judul buku tersebut. Ia mengaku judul 'Tangis Tawa Senyum' terilhami dari keinginan agar selama hidupnya berarti bagi banyak orang, terlebih kiprahnya sebagai wakil rakyat di DPRD Provinsi DKI Jakarta.

“Buku ini judulnya banyak orang bertanya, maksudnya apa. Sebenarnya gak sengaja buat judul ini. Samua dimulai dengan filosofi hidup saya, semua manusia pernah menangis, setidaknya waktu terlahir di dunia. Saat itu orang tua dan orang-orang sekitar saya khususnya keluarga tertawa senang menyambut kelahiran saya. Nah, di akhir hayat saya ingin terbalik, orang lain menangis dan saya tersenyum. Setelah menjalani kehidupan ini orang-orang tersenyum saat mengenang saya,” kata Syarif.

“Dalam konteks politik saya, tangisan rakyat harus menjadi dasar setiap kebijakan politik saya bersama partai Gerindra,” sambungnya.

Sementara kalimat Catatan Aktivis Tanpa Angkatan, Syarif mengaku, dirinya tidak ingin memiliki beban sejarah seperti halnya aktivis tahun 1998 lalu, yang kini banyak mengemban amanah sebagai pejabat negara.

“Saya tidak ingin menjadi beban sejarah. Saya bukan angkatan 1998, angkatan 1990 juga bukan dan angkatan 1995 juga bukan,” kata Syarif.

“Ketika lulus tahun 1996, saya masih demo supaya menyalurkan aspirasi. Jadi saya tidak ingin menanggung beban sejarah yang saat ini pentolan-pentolan aktivis 1998 menjadi pejabat, karena itu saya ingin menyebut diri saya sebagai aktivis tanpa angkatan,” imbuhnya.



Syarief Buku Tangis Tawa Senyum Tanpa Angkatan

Loading...

Related Post